Tuesday, February 9, 2010

Uenaak Tenan Iga Penyet Suroboyo!


JAKARTA | Daging iga yang satu ini tak hanya rasanya yang gurih enak, teksturnya juga hmm... sungguh empuk. Cocolan sambal rawit yang pedasnya dahsyat menambah nikmat rasanya saat disuap bersama nasi putih hangat. Apalagi jika dinikmati dengan menggunakan tangan wuih... dijamin makin sedap!

Nama Le'ko di Surabaya memang sudah taka asing lagi di kalangan pencinta iga penyet. Restoran yang menyajikan menu iga penyet sebagai andalannya ini memang sudah tersohor hingga akhirnya akhirnya muncul di Jakarta. Setelah lama jadi incaran akhirnya di akhir pekan kemarin saya dan teman-teman sesama penyuka iga berhasil menyambangi restoran tersebut.

Berbekal rasa penasaran kami pun menempuh perjalanan Kebon Jeruk - BSD. Namun untunglah letaknya yang berada di jejeran ruko Villa Melati Mas tepat berada di pinggir Jl. Raya Serpong sehingga tidak menyulitkan kami menemukannya.

Saat tiba tampak meja-meja sederhana dari kayu dideretkan di sisi kiri dan kanan ruangan dan beberapa telah terisi oleh pengunjung. Sedangkan bagian dinding dihiasi beberapa testimonial dari para artis yang pernah bersantap disini seperti Ivan Gunawan, dll.

Sesederhana tempatnya menu-menu yang ditawarkan pun bisa dibilang tak begitu banyak. Meskipun begitu menu iga andalan restoran ini ditawarkan dalam beberapa variasi seperti Iga Hotplate, Iga Tepung, Iga Goreng/Penyet/Sup, dan Iga + Otot Goreng/Penyet/Sup. Selebihnya ada Sup sump-sum, empal, tahu, tempe, babat, dan ayam.

Berhubung niat kami mememang ingin mencicipi iga maka pilihan kami jatuh pada Iga Penyet, Iga Hotplate, dan Iga Sup. Ada 3 pilihan tingkat kepedasan sambal yang ditawarkan mulai dari tidak pedas, sedang, dan pedas. Wah sebagai penyuka pedas kami pun tertantang untuk memesan porsi pedas.

Sebagai pendamping si iga penyet tak lupa dipesan seporsi cah kangkung. Untuk pilihan minumannya sendiri cukup unik karena disajikan dalam porsi biasa dan porsi jumbo. Karena beda harga tidak terlalu jauh antara ukuran jumbo dan biasa, kami memesan es lemon tea ukuran jumbo.

Setelah beberapa menit menunggu akhirnya hidangan kami tersaji juga di atas meja. Sekitar tiga sampai empat potong iga penyet plus taburan bawang tersaji dalam piring mungil dari tanah liat. Dibawahnya tersembul sambal dadak merah yang tampak garang sekaligus menggoda selera plus lalapan khas hidangan penyet.

Wah tak terasa terbit sudah air liur ini. Agar makin nikmat saya pun melupakan sendok dan langsung bergegas menuju wastafel yang sudah disediakan. Untuk menyantap hidangan seperti ini memang paling nikmat menggunakan tangan.

Iga ini digoreng kering sehingga menimbulkan sensasi gurih sedikit crispy di bagian diluar. Segera saja saya coba keempukan si iga dan ternyata saya benar-benar tidak kecewa. Dagingnya langsung terlepas dari tulang saat dikoyak dengan tangan. Aroma bawang putihpun tercium menguap dari sobakan dagingnya. Saat disuapkan ke dalam mulut dengan nasi hangat dan cah kangkung hmm... empuknya iga dan krenyes kangkung memberikan sensasi tersendiri di dalam mulut.

Cocolan sambal yang merah garang dengan memakai sambal rawit ini langsung menyetrum lidah. Tak ayal lagi titik-titik keringat pun mulai berlelehan. Huah... huah puedas dan enak! Untunglah segelas es lemon tea berukuran besar mampu meredamnya.

Slurpp... saat menghirup kuah sup iga yang bening dengan warna sedikit kecokelatan ini langsung membuat jatuh cinta. Kaldu sapinya yang ringan dan tidak berlebihan lemak meluncur hangat di tenggorokan. Buat sup iga ini irisan dagingnya sedikit lebih besar dan sedikit lebih banyak sehingga bisa disantap 2-3 orang. Ditempatkan di dalam paci mungil stainless steel dengan pemanas dibawahnya membuatnya tetap hangat saat dinikmati sampai akhir.

Untuk iga hotplate tampilannya tak beda jauh dengan iga penyet. Bedanya iga hotplate ini disajikan di atas hotplate dan hal tersebut membuat kedua sisi daging iga yang tampak sedikit gosong kehitaman. Meskipun iga yang satu ini tak kalah empuk namun tetap saja yang jadi favorit saya adalah si iga penyet dan sup iga.

Semua menu yang terdapat di warung Le'ko ini dihargai tak lebih dari Rp 37.500,00. Untuk seporsi iga penyet dan sup iga yang lezat tersebut masing-masing dihargai Rp 25.000,00. Sedangkan iga hotplate sedikit lebih mahal yaitu Rp 32.000,00 dan Rp 7.000,00 untuk es lemon tea jumbo. Tak begitu mahal bukan? Lain kali meski harus menempuh perjalanan lumayan jauh saya pun tak keberatan untuk datang kembali mengulang kelezatan iga penyet ini! (dev/Odi)

Warung Le'ko
Spesialis Iga Penyet
Ruko Villa Melatin Mas SQR A2 No.8
Telp: 021-53151434

Citywalk Sudirman Lantai 1
JL. KH Mas Mansyur No.121
Jakarta Pusat
Telp: 021-2555-8890

Jl. Boulevard Barat Blok B No.9
Kelapa Gading
Jakarta Utara
Telp: 021-45851340



Sumber: detikFood
KUNJUNGI SELALU BLOG BANGOMANIA DI http://bango-mania.blogspot.com

Thursday, February 4, 2010

Ayam Bakar Khas Jawa Timur... Uenake Rek!


Anda tergolong penyuka ayam bakar? Pastinya ayam bakar khas Jawa Timur yang satu ini bisa memuaskan selera. Dilengkapi dengan lalapan segar dan tiga jenis sambal hmm... sudah pasti rasanya menggoda selera. Uenake rek!

Ayam Bakar Fit Semi adalah makanan khas Jawa Timur yang pemiliknya asli Arema (Arek Malang). Lokasinya ada di kawasan Mayestik dan konon sang empunya yaitu Mas Yanto pernah bekerja sebagai koki di sebuah rumah makan selama belasan tahun. Jadi enggak heran kalau rasa ayam bakar ini memang 'beda' dan enak.

Menunya yang tersedia di warung ini sederhana saja yaitu Ayam Bakar atau Ayam Goreng yang dilengkapi lalapan dan sambal seharga Rp 12.000,00. Selain itu ada menu Paket Ayam Bakar/Goreng yang isinya terdiri dari ayam bakar/goreng, tahu, tempe yang di bakar atau di goreng.

Memang untuk menu paket tersebut ukuran ayamnya lebih kecil, tetapi sebagai gantinya ada tambahan oseng-oseng jamur, kentang goreng, sup, sayur asem yang bisa dipilih salah satu. Harga menu paket pun lebih murah yaitu Rp 9.000,00. Sebagai pendamping ayam bakar ini tersedia beraneka macam Jus buah atau softdrink.

Kali itu saya memilih menu ayam bakar yang disajikan dalam piring beserta pelengkapnya. Buat mereka yang bosan dengan menu ayam, bisa memesan bebek bakar atau goreng. Nah, agar asapnya tidak menggangu pengunjung bersantap maka ayam atau bebek ini dibakar di luar.

Tak lama datanglah ayam berwarna kecoklatan dengan sedikit jejak gosong di permukaannya. Kalau kurang kenyang bisa juga minta tambahan berupa tahu, tempe, sayur, jamur, ataupun kentang. Sedangkan sambalnya bisa dipilih ada sambal merah, sambal hijau dan sambal mangga. Wuih... asyik kan? Apalagi saat menyantapnya menggunakan tangan hmm... makin nikmat saja rasanya.

Sayangnya saat makan siang tempat ini sangat ramai oleh pengunjung yang rata-rata karyawan kantoran. Jadi kalau mau menikmati ayam bakar ini lebih nyaman sebelum atau setelah jam makan siang sekalian. Meskipun dipinggir jalan, jangan khawatir akan asap kendaraan karena tempat tersebut di kawasan perumahan, jadi tidak mengurangi kenyaman bersantap.

Seperti harganya yang sangat terjangkau, lokasinya sangat mudah di jumpai. Nah, begitu masuk ke jalan Bacang sekitar 10 meter disebelah kiri jalan langsung bisa ditemui karena lokasinya dipinggir jalan. Buat penggemar ayam bakar mau coba? (Arief Rahman)

Ayam Bakar Fit Semi
Jl. Bacang No.3, Mayestik
Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: 021-92297067
Jam Buka: 10.00 - 20.00


Sumber: detikFood
Kunjungi juga BLOG BANGOMANIA di http://bango-mania.blogspot.com

Wednesday, February 3, 2010

Tergiur Lothek yang Sedep Mlekoh


JAKARTA | Bumbu kacang manis gurih mlekoh melumuri sayur-sayuran. Kerupuk udang garing bikin rasanya jadi semakin enak. Rujak buah yang manis pedas pun jadi ending yang menggigit. Nyam..nyam..

Rasa bosan dengan masakan yang dijual di sekitar kantor membuat saya dan beberapa orang teman menelusuri jalan Ampera untuk mencari sesuatu yang baru. Tepat sebelum Gedung Arsip Nasional, mata saya menangkap sebuah tulisan besar 'Lotek Kemang'.
langsung saja mobil kami belokkan ke warung tersebut.

Wah, sudah lama sekali saya tidak makan lotek. Biasanya setiap kali ke kota kembang saya selalu menyempatkan diri untuk mencari makanan yang didominasi sayuran rebus ini. Menurut teman saya, Lotek Kemang ini sudah cukup tersohor apalagi untuk di kawasan Jakarta Selatan.

Warung nya terbilang sederhana, namun sangat terjaga kebersihannya. Di sebelah kiri terdapat meja panjang besar yang tertutup kaca membatasi ruang para pengunjung dengan mbak peracik lotek. Ya, bisa di bilang 'open kitchen' karena setiap pengunjung yang datang bisa melihat langsung saat lotek di buat.

Saya memesan lotek sedangkan dua rekan saya memesan gado-gado dan ayam bakar komplet. Saat melihat daftar rujak di papan , sayapun langsung memesannya juga. Sebenarnya masih ada menu lainnya seperti ketoprak dan nasi kuning komplet. Kalau makan di warung lotek mesti sabar. Si Mbak penjual membuat lotek langsung saat ada pesanan, jadi benar-benar baru! Cobek yang digunakan sangat besar, kira-kira berdiameter 50cm. Tentu saja ini harus didukung dengan tenaga yang super kuat juga untuk mengulek bumbu nya.

Selagi menunggu pesanan saya selesai diracik, saya pun asyik ngemil carang emas ubi. Selain carang emas ada juga keripik tempe dan rempeyek kacang yang ditaruh di toples berukuran sedang dekat meja meracik lotek. Satu persatu pengunjung berdatangan memenuhi warung, dan tak sedikit juga orang yang datang dan memesan lotek untuk dibungkus. "Wah, untung saja saya datang lebih dulu, kalau tidak pasti saya akan menunggu lebih lama," pikir saya dalam hati.

Lotek, gado-gado, dan ayam bakar komplet datang hampir bersamaan. Disajikan di atas piring bening dengan porsi yang tak terlalu besar. Kerupuk udang lebar menjadi teman makan lotek dan gado-gado. Gado-gado di warung ini lebih condong ke gado-gado siram. Bumbunya mlekoh berwarna coklat pekat, rasa bumbunya terasa kuat. Manis, pedas, asinnya pas menyatu jadi satu. Dan ada rasa kencur lamat-lamat tidak terlalu kuat. Sayurannya komplet, seperti kangkung, kol, tauge, kacang panjang, timun, dan ada tambahan tempe, tahu, dan telur.

Sedangkan lotek, sayuran rebusnya sudah bergumul dengan bumbu yang sedikit kering. Jadi bumbunya jauh lebih pekat dibandingkan dengan gado-gadonya. Potongan sayurannya renyah segar dengan balutan bumbu yang puket sehingga memberi aksen pedas, manis, gurih menjadi satu dengan aroma dan rasa kencur yang sedikit lebih kuat.

Harum ayam bakar pesanan teman saya cukup menggoda saya. Ayamnya berwarna kecokelatan dengan sedikit jejak gosong di beberapa bagian. Saat saya menyayat ayam dengan garpu, o lala.. mudah sekali. Dagingnya empuk, dan bumbunya terasa hingga ke bagian dalam. Selain ayamnya enak, yang jadi juara adalah sambalnya. Sambalnya merah menggoda dengan harum aroma terasi yang hmm.. bikin liur ini menetes! Rasanya pedas menggigit tapi sangat pas dengan si ayam bakar! Nyam..nyam..

Saat semua makanan sudah licin tandas, rujak saya barulah datang. Yah, saya harus maklum karena pengunjung yang datang semakin banyak saja. Rujak buah potong berisi potongan mangga, kedondong, bengkuang, nanas, dan mentimun. Tak lupa kerupuk aci di atasnya. Oya, yang unik dengan rujak ini dibagian atasnya ditaburi gerusan kacang jadi memberikan aksen gurih yang enak! Bumbunya juga mantap, pedas, manis, sangat pas disantap siang hari. Nyam..nyam..

Seporsi lotek dan gado-gado dihargai Rp 13.000,00 sedangkan ayam bakar Rp 15.000,00. Rujak buah Rp 12.000,00 Hmm.. kalau sedang berada di daerah Ampera siang ini, tak ada salahnya mampir dan mencicipi lotek mlekoh khas Bandung ini loh!
(eka/Odi)

Lotek Kemang
Jl Ampera Raya No. 4 C
Cilandak, Jakarta Selatan
Telp: 021-91908030


Sumber: detikFood
Kunjungi selalu BLOG BANGOMANIA di http:bango-mania.blogspot.com

Monday, February 1, 2010

Ngobati Kangen Pecel Madiun


JAKARTA | Bobot rasa kangen makanan bisa sama hebatnya dengan kangen pacar. Apalagi kalau mencicipi pecel khas Madiun ini. Sambalnya gurih pedas, mlekoh dengan taburan mlandingan, kemangi dan timun plus rempeyek teri. Setelah diaduk dan disuap dengan kerupuk gendar hmm... sensasinya memang jadi enak dan sedap!

Yang jadi gara-gara adalah BBMan larut malam dengan seorang teman. Bahasan gossip, suasana hati sampailah pada soal makanan. Topik yang agak detil dibahas ya pecel Kediri. Aduuh, diskripsi bumbu plus rempeyek dan kerupuk gendar yang renyah meriah benar-benar bikin air liur titik di larut malam!

Celakanya bayangan pecel Kediri tak juga lenyap keesokan harinya. Padahal kalau bicara soal pecel, makanan sederhana ini banyak jenisnya di Jawa. Ada pecel Blitar atau pecel Madiun yang sebenarnya lokasinya tak jauh-jauh benar dari kota Kediri, sebuah kota kecamatan di Jawa Timur. Di Jakarta juga bertebaran warung pecel tersebut.

Meskipun berlabel pecel Kediri tetapi tidak semua penjual benar-benar meracik bumbu dan tampilannya seperti pecel Kediri asli. Entah kebetulan atau memang keberuntungan, saat pagi itu saya menuju TMII untuk sebuah acara kuliner. Lokasinya tak jauh dari Pecel Madiun Taman Melati, tak jauh dari anjungan Kalimantan Tengah. Wah, ini dia pucuk dicinta pecelpun tiba! Taka da pecel Kediri, pecel Madiunpun jadi!

Sengaja tak mengisi perut terlalu banyak, usai acara sayapun langsung mampir ke warung makan yang sederhana ini. Interiornya serba bamboo dan kayu. Ada 3 meja dengan kursi segi empat menyambung di sisi kanan. Selebihnya meja kursi bersi berlapis rotan. Pelayan berseragam batik dan memakai blangkon langsung menghampiri meja dengan segelas air putih plus sepiring kecil kacang rebus. Air putih bisa ditambah langsung dair kendi tanah liat yang ada di tengah meja.

Menu yang utama ya makanan khas jawa Timue. Ada pecel madiun, sambal tumpang bandar kediri, rawon Purbolinggo, ayam/lele mujair penyet, tahu/tempe penyet, lempeng gapit, dan sambal brambang asem. Ada juga menu khas Suroboyo, tahu telor, tahu, gunting, rujak cingur plus gadon dan bothok.

Ya pilihan saya sudah pasti pecel madiun tanpa nasi, plus sambal brambang asem dan es dawet pagotan. Di tengah meja ada wadah plastik berisi side dish, lauk pendamping pecel: empal, bacem paru, bacem tahu dan tempe, telur asin, tahu-tempe goreng, sate ati ampela ayam. Stoples berisi rempeyek kacang/teri plus kerupuk gendar.

Pecel disajikan dalam porsi kecil di piring kaca beralas daun pisang. Ada kangkung, kacang panjang, daun singkong, daun papaya, plus tauge. Disiram bumbu pecel yang agak cokelat pucat dengan taburan irisan timun, kemangi, mlandingan alias petai cina dan rempeyek teri. Sedikit serundeng plus orek tempe disandingkan di sisinya.

Setelah diaduk rata, suapan pertama langsung terasa sengatan gurih-gurih pedas, tak ada jejak manis berlebihan, aroma daun jeruk plus kencurnya beriringan memperkuat rasa gurih kacang. Justru yang terasa agak kuat aksen asam Jawa di ujung lidah. Rasa renyah sayuran dan manis serundeng dan tempe orek memberi kombinasi sedap di lidah.

Sambal brambang asem khas Solo yang saya pesan disajikan dalam cobek sedang, warnanya cokelat kemerahan, encer didampingi sepiring daun singkong dan daun papaya muda rebus. Wah, tak sabar sayapun mencocolkan sambal brambang yang pedas dengan balutan manis gula Jawa yang kuat. Saya salah sangka ternyata lama kelamaan rasa pedas mulai menggigiti lidah. Ini mungkin lantaran saya menambah seporsi dedaunan rebus itu!

Rasa panas di lidahpun saya redam dengan es dawet yang wanrnanya hijau dnegan sirop gula aren dan irisan nangka yang royal. Sayang sekali dawetnya tidak dibuat dari air daun pandan suji asli sehingga tak seimbang dengan sirop gula yang sudah wangi dan nangka yang segar legit. Tetapi lumayanlah bisa menumpas rasa pedas di lidah.

Sepertinya lain kali saya harus mampir lagi untuk mencicipi sajian menu penyet yang saya lihat paling banyak dipesan orang selain pecel. Atau seporsi sambal tumpang bandar kediri. Untuk harga relatif tak mahal mengingat lokasinya di kawasan wisata, seporsi pecel Madiun Rp. 6.500,00, sambal brambang asem Rp. 7.500,00 dan segeals es dawet Rp.6.000,00. (dev/Odi)

Pondok Pecel Madiun
Taman Melati
TMII (di sebelah taman melati, di seberang Anjungan Kalimantan Tengah)
Jakarta Timur
Telpon: 021-8409462; 021-33418261
Jam Buka : 08.00 – 16.00


sumber: detikFood
Kunjungi BLOG BANGOMANIA di http://bango-mania.blogspot.com/

Friday, January 29, 2010

Slruup! Anget Gurih Sup Buntut Goreng


JAKARTA - Buat penggemar daging pastinya menu sup buntut goreng ini cocok dijadikan pilihan untuk makan siang nanti. Tidak hanya bisa menikmati daging yang garing diluar dan empuk di dalam. Kuah kaldu sapi yang hangat dengan tomat dan wortel yang segar bakal menambah nikmatnya.

Sup buntut goreng alias Fried Oxtail Soup ini memang sudah memiliki tempat tersendiri bagi para penggemarnya. Sup buntut goreng ini sebenarnya merupakan varian lain dari sup buntut klasik. Bedanya terletak pada potongan buntut yang disajikan dengan cara digoreng dan diberi racikan bumbu sehingga rasanya gurih harum.

Bahan utama sup ini tentunya berupa buntut sapi. Bisa memakai buntut sapi lokal yang cenderung sedikit berlemak atau jika suka bisa juga memakai buntut sapi import yang lemaknya banyak namun dagingnya juga tebal.

Untuk menu yang satu ini biasanya buntut sapi disajikan dalam beberapa potong buntut dalam piring. Kuah sup beraroma kaldu dan sayurannya disajikan secara terpisah seperti daun bawang, tomat, seledri dan wortel. Setelah semuanya diracik saja rasanya jadi lebih gurih dan enak.

Untuk memakan buntut goreng ini tentunya bisa dinikmati sesuai selera. Buat yang tidak ingin melewatkan garingnya daging buntut ini bisa memakannya dagingnya dulu dan kemudian menghirup kuahnya yang beraroma kaldu. Bisa juga dengan cara mencampurkan potongan buntut ke dalam kuah kaldu. Agar makin sehar bisa juga ditambahkan dengan kucuran jeruk nipis dan sambal rawit.

Buat Anda penggemar sup buntut goreng berikut beberapa pilihan restoran yang menyediakan menu ini. (dev/Odi)

Daput Buntut
Jl. KH. Abdullah Syafei No.50D
Jakarta
Telp: 021-8310555

Sop Buntut Ibu Samino
Jl. Setia Budi No. 18
(Belakang Wisma Bakrie)
Karet Kuningan - Jakarta
Telp: 021-70833833

Andrawina Restoran
Sahid Jaya Hotel Lv.GF
Jl. Jend. Sudirman No. 86
Jakarta Pusat
Telp: 021-5704444 ext.1424

Sup Buntut An (Mr.Sangid Ex Borobudur)
Gading Batavia Food Promenade
Blok LC 8/30 Kelapa Gading
Jakarta Utara
Telpon: 021-45854334, 45854335

Sup Buntut Semoga (Cut Mutia)
Jl. Menteng Kecil 1
Jakarta Pusat
Telpon : 021-3924213, 3146266

Bakerz In
Plaza Senayan Lt.2
Jakarta Selatan

Sumber: detikFood
Kunjungi selalu Blog BANGOMANIA di http://bangomania-blogspot.com

Wednesday, January 27, 2010

Kesengsem Ayam Bakar Solo


JAKARTA - Olahan ayam yang satu ini sudah cukup kondang tak hanya di Solo, tapi juga Jakarta. Rasanya yang gurih-gurih manis bisa bikin ketagihan. Dagingnya empuk makin enak dimakan dengan sambal goreng yang pedas menggigit! Huah..huah..

Yag namanya ayam bakar, pastinya sudah cukup akrab di telinga danjuga lidah pecinta kuliner di Jakarta. Jenis ayam bakar juga bermacam-macam. Ada yang dibakar dengan bumbu kuning, bumbu rujak, dan juga bumbu manis. Seperti halnya jenis ayam bakar yang satu ini, selalu saja membuat saya kangen untuk terus mencicipinya.

Malam beranjak larut saat saya kembali ke rumah. Belum juga saya sampai di rumah, saya teringat ayam bakar Solo yang sering saya lewati. Hmm..sudah lama sekali tidak mampir ke warung tersebut batin saya. Perut ini sudah menjerit minta diisi, tanpa pikir panjang lagi saya pun langsung mampir ke warung tenda yang berlokasi di Jl. Hankam, Kelapa Dua.

Untung saja stok ayam bakarnya masih ada. Karena biasanya pukul 9 malam warung ini hanya menyisakan kepala atau ceker dan beberapa potong ayam sehingga tak terlalu banyak pilihan. Warung tenda ini sangat sederhana, dengan dua buah meja panjang yang tidak terlalu besar. Biasanya mereka yang datang ke warung ini membeli nya untuk di bawa pulang.

Sebenarnya tidak hanya ayam bakar saja yang dijual, ayam goreng juga ada. Tapi yang cukup terkenal adalah ayam bakarnya. Satu porsi ayam bakar plus ceker dan kepala jadi pesanan saya. Sayangnya ampela kesukaan saya sudah habis hanya tertinggal ati ayam saja.

Selama menunggu ayam selesai di panggang, tak sedikit orang yangdatang silih berganti untuk membeli ayam bakar Solo ini. Harum aroma daging ayam yang tengah dipanggang menggelitik hidung saya membuat perut ini semakin menjerit minta segera diisi. Untunglah, penantian saya tak berlangsung lama.

Ayam bakar disajikan bersama dengan lalapan mentimun, selada, dan daun kemangi. Tak lupa sambal goreng yang dari warnanya saja sudah terlihat kalau rasanya cukup garang! Buat saya syam bakar Solo ini memiliki rasa yang cukup khas. Rasa gurih dan juga rasa manis yang bersamaan. Rasa manis pada dagingnya ini berasal dari gula Jawa yang digunakan saat mengungkep si ayam.

Selain itu juga ada tambahan asam Jawa yang membuat rasanya asam segar meskipun lamat-lamat. Bumbu nya meresap hingga ke tulang. Saat dagingnya disobek danlangsung mendarat di lidah, hmm.. rasanya gurih lezat dengan aroma sangit yang masih terasa. Apalagi saat dagingnya saya cocolkan dengan sambal goreng yang merah medok, gurih nya daging ayam langsung menyatu dengan pedasnya sambal membuatnya semakin enak!

Meskipun sambalnya pedas, tapi tetap saja ada jejak rasa manis di akhir rasanya. Ini yang mencirikan sambal gaya Jawa Tengahan. Sambalnya bikin saya nagih! Tak enak rasanya kalau daging ayam nakar ini tak dicolek dengan sambalnya. Tak jarang saya selalu minta tambah sambalnya kepada si penjual.

Kenikmatan saya belum berakhir, karena masih ada kepala dan ceker ayam yang masih menanti untuk disantap. Tapi kali ini kepala dan ceker ayamnya dimasak dengan cara digoreng. Rasanya tentu saja tak kalah enak dengan ayam bakarnya. Seporsi ayam bakar Solo ini cukup murah loh, cukup dengan Rp 7.000,00 saja, ayam bakar Solo lezat sudah bisa dinikmati. (eka/Odi)

Ayam Bakar Solo 'Citra Rasa'
Jl.Raya Hankam, Kelapa Dua
Depok


Sumber: detikFood
Kunjungi selalu BLOG BANGOMANIA hanya di http://bango-mania.blogspot.com

Saturday, January 23, 2010

Pedas Segar Rujak Soto


Rujak soto? Apakah jenis makanan ini merupakan campuran rujak dengan soto? Kalau penasaran, datanglah ke Banyuwangi, kota di ujung timur Jawa Timur itu. Rujak soto memang makanan khas kota itu.

Tanyakan kepada orang Banyuwangi, makanan khas apa yang enak di kotanya. Boleh jadi, rujak soto adalah jawaban pertama, lalu disusul dengan nasi tempong. (Namun, tentu itu kalau yang ditanya kebetulan memang penyuka rujak soto.)

Suatu malam pada akhir November 2009 di Kabupaten Banyuwangi, kami mencari rujak soto. Kami menyusuri kota, menengok ke kiri dan ke kanan jalan, mencari warung yang menjual rujak soto. Tak juga ditemukan.

Karyawan sebuah hotel di Banyuwangi mengatakan, sulit memang menjumpai warung rujak soto di malam hari. Seorang tamu hotel menyarankan untuk mencari di lesehan. ”Coba di perempatan Jalan Airlangga, ada yang buka malam,” katanya.

Kami bergegas meluncur ke Jalan Airlangga. Dan benar, di sana ada warung lesehan. ”Warung Lesehan Mbak Lastri”, tulisan itu disablon di atas terpal dan direkatkan di dinding rumah orang. ”Sudah minta izin kok,” kata Mbak Lastri, ibu dua anak berusia 39 tahun yang sendirian saja menjalankan bisnis kecilnya. Katanya, sekadar meringankan beban suaminya yang mencari nafkah di bengkel.

”Kemarin ada rombongan dua mobil dari Semarang ke sini, katanya penasaran dengan rujak soto. Warung rujak soto banyak banget di sini, tapi kalau malam biasanya sudah tutup,” imbuhnya.

Paduan sayur dan petis

”Mau rujak soto atau rujak saja?” tanya Mbak Lastri setelah kami duduk. Pertanyaan standar, mengingat kadang-kadang orang hanya memesan rujak meski jarang yang hanya memesan soto. Tentu saja kami memesan rujak soto.

Rujak di Banyuwangi menyerupai lotek di sejumlah kota di Jawa Tengah, yakni campuran sayur-mayur dengan bumbu kacang. Perbedaannya, bumbu kacang untuk lotek biasanya kuat rasa bawangnya, juga dibubuhi sedikit terasi dan jeruk purut untuk penyedap rasa. Sedangkan rujak Banyuwangi cukup dibalur dengan petis. Paduan bumbu kacang tanah dan petis ini cocok betul untuk sayur-mayur.

Mbak Lastri mulai mengulek atau melumatkan cabe rawit yang jumlahnya bergantung pada permintaan konsumen. Ada pembeli yang maunya satu saja, tetapi ada yang minta tujuh biji. Garam, kacang goreng, dan gula merah diulek. Tak perlu bawang putih rupanya. ”Soalnya sudah ada petis. Saya pakai petis yang mahal dan enak, yang satu kilogramnya berharga Rp 25.000,” kata Mbak Lastri.

Dia kembali mengulek sesuatu, yang rupanya pisang kluthuk (pisang batu) muda. Selain dipercaya dapat menyedapkan masakan, pisang yang banyak bijinya itu juga bisa mengobati panas dalam.

Setelah dicampur dengan air asam dan petis, ulekan bumbu kacang itu barulah ditambah dengan sayur-mayur berupa kangkung, kacang panjang, kubis, tahu, dan tempe. Bisa juga ditambah dengan cingur atau moncong sapi.

Rujak usai dibikin. Mbak Lastri lantas menuangkan kuah soto babat sapi ke dalam mangkuk berisi rujak yang sudah ditambah dengan irisan lontong. Asap mengepul, mengalirkan aroma yang khas. Setelah tersaji di atas tikar, kami pun melahapnya.

Soto dipersiapkan


Kalau mengamati proses membikin rujak soto ini, wajar jika pembeli harus menunggu cukup lama. Apalagi jika ada pembeli yang tidak mau memakai tauge, atau tidak suka kangkung, dan minta kacang panjang saja, misalnya. Atau jika permintaan jumlah cabe beragam. Mbak Lastri harus membikin rujak berlapis-lapis, dimulai dari yang paling sedikit isi rujaknya.

”Makanya untuk soto harus sudah jadi dulu. Soto ini juga bisa dua jenis, pakai kaldu sapi atau ayam. kalau ayam ya ceker. Kalau sapi biasanya berisi babat, usus, atau tetelan atau daging sapi,” kata Mbak lastri.

Tetelan adalah irisan daging yang diambil dari bagian paling dekat dengan tulang. Cara membikin soto untuk kuah rujak ini sama seperti soto pada umumnya. Bawang merah, bawang putih, kunyit, kemiri, jahe, lada, dan ketumbar setelah ditumbuk lantas disangrai. Bahan-bahan tersebut dimasukkan ke dalam kuah soto yang sudah terisi babat sapi dan tetelan daging. Juga dimasukkan daun jeruk nipis dan daun/batang serai. Takaran garam dan gula menyesuaikan.

Membikin rujak soto sama saja dengan membikin dua menu masakan dalam satu sajian. Seperti konsep two in one, dua dalam satu rasa. Ibarat musik jazz, rujak soto adalah fusion, paduan dua rasa yang menyatu dalam satu mangkuk. Memang terkesan ribet, namun tantangan rasanya boleh dicoba.(Susi Ivvaty dan J Waskita Utama)

Sumber: Kompas
Kunjungi selalu BLOG BANGOMANIA di http://bango-mania.blogspot.com